12 September 2009

Kampung Inggris Pare  

2 komentar

Ingin pandai berbahasa Inggris dengan cepat dan biaya murah? Datanglah ke dua desa di Kediri. Di sana, tersedia ratusan lembaga kursus bahasa Inggris. Dijamin, dalam 3 bulan sudah cas cis cus berbahasa Inggris.
“Hello guys, how’s life?”
“Everything is running good. And you?”
“Fine.”
Itulah percakapan yang terjadi antara seorang gadis remaja dan teman-temannya di sebuah warung sederhana di Desa Tulungrejo, sekitar 20 Km dari Kota Kediri. Jangan heran jika di desa itu menemui anak-anak ber-cas-cis-cus dalam bahasa Inggris. Entah itu di warung atau tempat nongkrong anak-anak muda. Mulai percakapan dengan topik serius, sampai banyolan, semua dilafalkan dalam bahasa Inggris.
Tentu saja tak semua bisa bicara Inggris dengan lancar. Maklum, baru belajar. Selain kosakatanya masih minim, pengucapannya juga terkesan belepotan. Tapi semangat mereka untuk bisa berbicara dalam bahasa internasional itu, luar biasa men-cengangkan. Itu pula sebabnya dua desa di Kabupaten Pare itu, Desa Tulungrejo dan Singgahan, dijuluki “Kampung Inggris”.
Luar Pulau
Tak semua penduduk Kampung Inggris adalah penduduk asli, karena banyak juga pendatang yang sengaja “mondok” di sana demi belajar bahasa Inggris. Di dua desa itu, terdapat 100 tempat kursus bahasa Inggris. Mulai dari yang besar sampai kecil. Para siswa datang dari berbagai pelosok Indonesia seperti Papua, NTT, bahkan Timor Leste. “Saya juga heran. Padahal, kalau untuk penduduk setempat, kursusnya gratis. Dari 100 siswa saya, cuma dua yang asli Pare,” kata Achmad Al-Faruqi (26).

Kata Faruqi, sudah lama Kampung Inggris jadi rujukan banyak orang untuk mendalami bahasa Inggris. Menurut pria asal Riau ini, siswa yang datang mulai dari jebolan SMU hingga lulusan pascasarjana yang ingin meraih gelar doktor. ”Ada juga yang ingin memperlancar percakapan sebagai bekal kerja di luar negeri.”
Di tempat kursusnya, lanjut Faruqi, selain diajari tata bahasa, struktur, “Yang penting adalah percakapan. Banyak yang pintar bahasa asing tapi kurang dalam soal percakapan. Makanya, kebanyakan yang datang ke sini ingin bisa berkomunikasi lancar,” kata pemuda jebolan Pondok Pesantren Gontor ini.
Tak heran jika sehari-hari, siswa diharuskan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bahkan, jika sudah memasuki kursus bulan kedua siswa yang tidak menggunakan bahasa Inggris, “Kami minta keluar sebab nanti akan merusak sistem,” ujar Abdul Rohim (27).
Soal gagap atau belepotan, “Tak masalah. Toh, para pengajar akan menuntun mereka.”
Murah & Cepat Bisa
Alasan lain orang berbondong-bondong menuntut ilmu bahasa

Setelah belajar di Pare, mereka makin pede bicara Inggris.

Inggris ke Pare, karena biaya yang amat murah. Untuk jadwal belajar sehari tiga hingga lima kali, biayanya hanya Rp 60 ribu sampai Rp 100 Ribu. ”Kalau di tempat lain, pasti jutaan rupiah,” kata Faruqi.
Mengingat pelajar kebanyakan datang dari luar daerah maupun pulau, disediakan pula sarana pondokan atau kos. Untuk tarif kursus plus kos, Rp 250 ribu per bulan. “Kalau hanya kursus, cuma Rp 80 ribu. Soalnya, jika mondok, belajarnya bisa lebih intensif lagi. Selain lima kali belajar, selama berada di sini, dilarang menggunakan bahasa selain Inggris. Makanya, cukup tiga bulan di sini, hampir pasti sudah bisa berkomunikasi lancar,” ujar Faruqi yang sudah memiliki tiga kontrakan rumah sebagai tempat pondokan sekaligus kelas siswa.
Dengan biaya semurah itu, ya, jangan bayangkan tempat mewah, sejuk, serta wangi. Meski ada tempat kursus yang menyediakan bangku, tak jarang ketika kursus hanya lesehan di atas tikar sederhana dengan papan tulis. Pakaian para siswa pun seadanya. “Kami tidak mengutamakan penampilan, yang penting kualitas,” tutur Faruqi yang sudah meluluskan sekitar 500 siswa.
Patokan tiga bulan sudah bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris, dirasakan Fitri (17), Feny (18), dan Yusri (19). “Sistem pengajarannya bikin kami cepat bisa. Tiap hari dicekoki dan harus bicara dalam bahasa Inggris, ya, lama-lama bisa. Sekarang saya sudah pede kalau bicara,” ujar Yusri, gadis dari Pelambang. Sementara Feny dan Fitri berencana menjadi pengajar bahasa Inggris. “Kalau lulus tes, kami bisa jadi guru bantu di pondok-pondok pesantren.”

Opi (kanan) terpaksa cuti kuliah untuk memperdalam bahasa Inggris.

Sedangkan Opi Yawulan (22), mahasiswa semester empat dari PTN di Bandung Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, sengaja cuti dari kampusnya selama satu semester untuk belajar di salah satu lembaga kursus di sana. “Alhamdulillah saya menemukan tempat ini. Meski saya kuliah di Sastra Inggris, di sini jauh lebih bagus teknik pengajarannya ketimbang di kampus. Di sini, struktur bahasa itu dipreteli satu persatu sampai kita benar-benar paham,” kata Opi yang membayar tak lebih dari Rp 200 ribu per bulan untuk biaya kursus plus pondokan. “Padahal, tempat kos saya untuk ukuran di sini sudah paling mewah.”
GANDHI WASONO M.
Sumber: http://www.facebook.com/group.php?gid=72993167366#/group.php?gid=72993167366


Selengkapnya...

04 Juli 2009

Mendesain Kampung Inggris Di Pare  

0 komentar

Narasi terbesar yang memukau relung hati-jiwa tiap insan sepanjang sejarah akan kualitas hasil belajar bahasa asing adalah di kampung Inggris. Ketika penduduk bumi menanyakan lingkungan yang sangat mendukung, murah, pastilah akan menjawab, “Pare adalah tempatnya”.
Ya, Pare kini menjadi magnet pusatnya pergumulan “ragam cultur” warga dunia menyelami ilmu bahasa asing. Lebih-lebih pada studi bahasa Inggris. Ustadz Yazid (almarhum), pemiliki pondok pesantren Darul Falah, pesohor ahli bahasa ternama, yang menguasai 8 bahasa asing, sekaligus aktor utama pelaku empirisme, ontologis, dan aksiologis historisitas cikal bakal lahirnya Lembaga Kursus Bahasa Asing (LKBHA), telah mengubah arah sejarah nama Pare menjadi “primadona” siapa saja. Ini dapat kita lihat dari banyaknya LKBHA yang sekarang tersebar di Pare.
Mulai dari Basic English Course (BEC), EECC, HEC, dari Smart Internasional Language Course, Marvelous, Global, Pratama, Acces, dari Mahesa Institut, Harvard, A Wareness, Able, Eternity, Elfast, Daffodils, Kresna, Al-Farisi, Warnes, Liberty, Al-Hakim, Webster, Logico, Prima, General English Course (GEC), General English Skill (GES), sampai Dinamic English.
Banyaknya lembaga kursus ini semakin mengukuhkan dirinya, bahwa Pare adalah tempat jaminan teruji mengatasi ketumpulan otak anak manusia untuk menyerap kaidah jenis, fungsi bahasa asing secara teoritis dan praktek. Semuanya diperoleh melalui kerja keras, telaten, sabar selama bertahun-tahun dengan mengusung visi dan rientasi utama mengaplikasikan ilmu pengetahuan (the first orientation of knowledge application).
Dengan karakteristik inilah, nama Pare kini melambung “tinggi-besar” dari hari ke hari. Terkenal di seluruh jagad perbendaharaan kata para pakar ahli bidang ilmu bahasa asing dari tikungan lintasan berbagai pulau dan benua.
Sehingga menghasilkan peserta didik berkulitas. Walhasil, tentu setelah melewati jalan titik level dari grammar, speaking, writing, listening, pronoun atau eccent, vocabulary, transliting, sampai penguasaan toefl. Materi-materi lain juga terangkum didalam sistem metodologi pembelajaran bahasa, Arab, Jepang, Jerman, Urdu, Rusia, Perancis dan Belanda di Pare.
Tak urung seakan kota Pare menjadi kampusnya kampus bahasa para mahasiswa, dosen, guru, anggota dewan, sarjana, pencari kerja, jurnalis, sampai personel seni. Bahkan pernah hadir para peneliti bahasa yang datang dari negara Bahrain, Thailand, Australia, Amerika Serikat, dan Timor Leste yang meneliti proses belajar mengajar di LKBHA Pare.
Prestasi agung yang sulit dicari dalam perkembangbiakan ilmu bahasa asing ranah percaturan pendidikan di era sekarang ini menuntut kepada seluruh elemen masyarakat di Pare. Yaitu untuk segera membenahi sarana prasarana publik sebagai penunjang utama jalannya teori ruang multikulturalisme dialektika humanisme sosial antara para pendatang dan penduduk setempat.
Ibarat mata uang adanya LKBHA di desa Tulungrejo, Pare, Kediri ini adalah harta karun yang tertimbun tanah terlalu dalam, namun belum ada yang menggali untuk mendapatkannya secara mendasar, menyeluruh, dan spekulatif.
Pembenahan Ruang Publik
Layaknya perawan jelita sedang imut-imutnya di buru pria lajang, kampung Inggris adalah wanita cerdik nan pandai dan sholehah. Namun sayangnya masih jerawatan dan belum bisa cara menghias wajahnya, berpakaian, dan berpenampilan yang menarik setiap orang yang melihatnya.
Maka, agar indah dan enak dirasakan mata dan hati, ada baiknya pemerintah memberikan dukungan moral maupun material kepada para pengelola LKBHA, dengan menggandeng camat, kepala desa dan warga setempat.
Yaitu mengubah frame kampung Inggris dengan penghalusan jalan-jalan utama dan lorong-lorong yang rusak, pembuatan taman di perempatan dan pertigaan jalan. Penambahan lampu jalan sampai “gerakan moral” penyadaran tentang pentingnya kebersihan lingkungan hidup kepada kaum pendatang dan penduduk setempat.
Tentunya kita tidak ingin potensi daya pikat mengarah perubahan yang melegenda bidang sosial, ekonomi, sosial, pendidikan dan kebudayaan di Pare stagnan dan hancur hanya karena kurang cerdasnya kita memanfaatkan peluang yang sudah menanti di depan mata.
Meminjam istilah Stephen R Covey dalam The Seven Habits, tingkat paling tertinggi dalam ruang hidup sosial manusia sesungguhnya bukan berakhir pada kemandirian, namun kesalingtergantungan antar ruang lingkungan komunal satu dengan yang lainya.
Oleh karena itulah, pembenahan sarana publik ini akan memicu pertumbuhan cepat kampung Ingggris sebagai satu-satunya pusat studi bahasa asing yang di idolakan setiap orang. Yang berimplikasi pada taraf hidup warga setempat lebih menjulang harga diri dan kemaslatannnya!

By YUDI NOOR HADIYANTO, sarjana Filsafat Islam, dan Teacher Bahasa Inggris di Eternity Pare, Kediri.
Selengkapnya...

22 Agustus 2007

Sekilas Mengenai Pare  

1 komentar

Pare, adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Terletak 25 km sebelah timur laut Kota Kediri, atau 120 km barat daya Kota Surabaya. Pare berada pada jalur Kediri-Malang dan jalur Jombang-Kediri serta Jombang - Blitar. Sudah lama ada wacana Pare dikembangkan menjadi ibu kota Kabupaten Kediri, yang secara berangsur-angsur dipindahkan dari Kota Kediri. Namun niat ini tidak pernah serius dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten atau para Bupati yang menjabat.

Kota Pare yang berada pada ketinggian 125 meter di atas permukaan laut ini mempunyai udara yang tidak terlalu panas. Berbagai jenis jajanan dan makanan enak dan higinis dengan harga "kampung" dapat dijumpai dengan mudah di kota kecil ini. Berbagai infrastruktur dan fasilitas kehidupan kota juga dengan mudah dapat dijumpai: hotel, rumah sakit (yang besar HVA dan RSUD rumah bersalin yang lengkap pun juga ada), ATM bersama, warnet 24 jam ber-AC, dsb.
Pare memiliki tanah yang subur bekas letusan gunung Kelud dan tidak pernah mengalami kekeringan. Produk agraria andalan dari Pare adalah bawang merah, biji mente dan blinjo. Sedangkan oleh-oleh khas dari Pare antara lain adalah tahu kuning dan gethuk pisang. Di Pare sudah lama bermunculan industri menengah bertaraf internasional, seperti industri plywood dan pengembangan bibit-bibit pertanian. Tempat-tempat rekreasi pun telah ada semenjak tahun 1970-an meskipun sederhana, seperti Pemandian "Canda-Bhirawa" Corah dan alun-alun "Ringin Budo".
Pare terutama Desa Tulungrejo juga dikenal mempunyai potensi pengembangan kursus Bahasa Inggris. Saat ini lebih banyak bermunculan berbagai jenis bimbingan belajar terutama kursus-kursus Bahasa Inggris. Lebih dari 20 buah lembaga bimbingan belajar menawarkan kursus Bahasa Inggris dengan program program D2, D1 atau short course untuk mengisi waktu liburan. Dalam hal ini, kota Pare sebagai pusat belajar Bahasa Inggris yang murah, efisien dan efektif sudah terkenal hingga keluar Pulau Jawa. Sebagai efek ikutannya, di daerah Tulungrejo sekarang muncul berbagai jenis tempat penginapan dan kost yang menampung para pelajar dan maupun pekerja. Tarif kos per orang bervariasi dari 50 ribu hingga 200 rb per bulan.
Kecamatan Pare menjadi terkenal di seluruh dunia karena di sinilah antropolog kaliber dunia, Clifford Geertz - yang saat itu masih menjadi mahasiswa doktoral - melakukan penelitian lapangannya yang kemudian ditulisnya sebagai sebuah buku yang berjudul The Religion of Java. Dalam buku tersebut Geertz menyamarkan Pare dengan nama "Mojokuto".
Pare termasuk kota lama. Ini terbukti dari keberadaan dua candi tidak jauh dari pusat kota, yakni Candi Surowono dan Candi Tegowangi, serta keberadaan patung "Budo" yang berada tepat di pusat kota. Ketiga peninggalan ini membuktikan bahwa Pare telah lahir ratusan tahun lalu. Hanya sampai sekarang belum diketahui dengan pasti kapan kota Pare berdiri dan siapa pendirinya.
Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Pare,_Kediri.
Selengkapnya...

25 Agustus 2006

Mengenal Tokoh Tertua di Kampung Bahasa Inggris Pare  

1 komentar

M. Kalend Osen bisa disebut sebagai pendiri kampung Bahasa Inggris di Pare. Karena awal adanya kursusan Bahasa Inggris di Pare ada di tempatnya. Setelah itu ratusan kursusan Bahasa Inggris mulai menjamur di tempat itu.

Kalend. Nama itu tidak asing bagi masyarakat yang suka menimba ilmu Bahasa Inggris. Kemampuannya mencetak siswa-siswa jago bercas-cis-cus Bahasa Inggris sudah tak diragukan lagi. Jutaan siswa sudah merasakan polesan Bahasa Inggris dari Kalend. Hasilnya begitu keluar dari kursus di Basic English Course (BEC) di Jalan Anyelir, Singgahan, Pelem, Pare, siswa-siswi Kalend mampu berkomunikasi Bahasa Inggris dengan lancar.

Hal inilah yang membuat nama Kalend semakin melambung. Tak hanya di Pare dan sekitarnya, di penjuru nasional nama Kalend sudah tak asing. Tak heran jika siswa-siswi Kalend berasal dari seluruh Indonesia.

Jika melihat sekilas, sosok Kalend tak ada yang terlalu istimewa. Lelaki kelahiran Kutai, 20 Februari 1945 sama seperti bapak-bapak kebanyakan. Penampilannya biasa saja. Saat ditemui wartawan koran ini (13/9) di BEC, Kalend yang baru saja menunaikan ibadah salat Duhur, mengenakan kopiah hitam, t-shirt abu-abu dan sarung putih.

Tapi begitu mulai bercakap-cakap dengan Kalend, gaya seorang pengajar ada pada dirinya. "Kalau ada siswa yang tidak niat belajar Bahasa Inggris. Ya lebih baik saya suruh pulang saja daripada mengganggu teman-temannya yang benar-benar mau belajar," ujar Kalend.

Soal kemampuan Bahasa Inggris, Kalend dengan rendah hati mengaku kalau sebenarnya kemampuannya biasa-biasa saja. "Hanya banyak orang yang percaya belajar dengan saya makanya banyak yang belajar ke sini ," ujarnya.

Kalend sendiri memulai menjadi guru Bahasa Inggris secara kebetulan. Lelaki asal Kalimantan Timur ini datang ke Pare awalnya hanya untuk belajar bahasa ke Alm KH Ahmad Yazid yang kabarnya menguasai sembilan bahasa pada 1976. Apalagi saat itu Kalend kehabisan uang di Gontor saat mau kenaikkan kelas V ke kelas VI, sehingga pilihan ke Pare semakin menguat.

Setelah belajar beberapa bulan, tiba-tiba ada dua mahasiswa IAIN Surabaya yang mau belajar Bahasa Inggris ke KH Ahmad Yazid. Karena saat itu KH Ahmad Yazid tidak ada di tempat, Kalend kemudian ditunjuk istri Yazid untuk mengajar dua mahasiswa tersebut.

Mendapatkan perintah menjadi guru, Kalend pun berusaha maksimal. Sebanyak 350 soal yang dibawa dua mahasiswa dicoba dikerjakan bersama-sama tanpa membuka buku Bahasa Inggris. Hasilnya 60 persen mampu diselesaikan. Sedangkan sisanya dengan cara membuka buku. "Lima hari selesai 350 soal itu kami kerjakan," ujar Kalend.

Setelah semua soal selesai dikerjakan, dua mahasiswa tersebut kembali ke Surabaya. Dan, mereka berhasil lulus ujian bahasa Inggris sebagai salah satu syarat kelulusan. "Setelah lulus mereka datang ke sini dan bercerita di musala kalau saya bisa mengajar Bahasa Inggris," ujarnya.

Langkah awal yang bagus itulah membuat Kalend mulai dikenal di Pare. Anak-anak mulai belajar Bahasa Inggris kepadanya. Hingga akhirnya, 15 Juni 1977 Kalend meresmikan pendirian BEC. "Saat itu murid saya hanya enam orang dan pembukaan BEC hanya baca Al Fatihah," ujarnya.

Singkat cerita, pada 1983 BEC semakin pesat berkembang. Muridnya tidak hanya dari Kediri dan sekitarnya tetapi mulai seluruh Indonesia.

Uniknya dalam menggaet siswa dari luar pulau itu, Kalend tidak menggunakan promosi atau iklan tetapi hanya menggunakan jasa alumni siswa-siswanya. Mereka bercerita ke rekan-rekannya hanya dari mulut ke mulut.

Saat ini siswa BEC mencapai 600 orang. Mereka belajar selama enam bulan di BEC. Tapi, waktu enam bulan itu tidak menjamin mereka bisa lulus. Jika dalam bulan keempat, siswa ketahuan tidak menggunakan bahasa Inggris di lokasi BEC maka sanksi dikeluarkan akan diterima.

Tidak itu saja, saat ujian di Borobudur, siswa harus aktif berbicara dengan turis dengan bahasa Inggris. Diam saja atau hanya main-main sudah pasti dinyatakan tidak lulus harus diterimanya. Untuk tahun ini dari 196 siswa yang diuji ke Borubudur, tujuh diantaranya harus pulang kampung tanpa membawa sertifikat tanda kelulusan.

Agar pengawasan dalam ujian di Borubudur berlangsung maksimal. Kalend tidak pernah membawa siswa dalam jumlah besar. Kendaraan yang dipakai hanya L-300 untuk membawa 18 siswa. "Kami tidak rekreasi ke Borubudur tetapi ujian makanya siswa yang diuji hanya sedikit," ujar Kalend.

Banyaknya siswa yang berhasil menimba ilmu dari Kalend ini dimanfaatkan sebagian mantan siswanya untuk membuka lapangan pekerjaan di sekitar BEC. Lembaga kursusan Bahasa Inggris mulai menjamur. Hingga jumlahnya mencapai ratusan.

Meski demikian, lelaki yang baru saja menunaikan umrah ini mengaku tak pernah merasa tersaingi. Walau lapangan pekerjaan yang dibuka mantan muridnya itu sama dengannya tetapi Kalend menganggap hal itu adalah hal yang biasa.

Hanya yang menjadi keluhan Kalend saat ini adalah sepinya turis mancanegara yang berkunjung ke tempatnya. Diduga jarangnya turis ke BEC karena terimbas adanya bom Bali beberapa tahun lalu. Akibatnya, jika siswa-siswi bisa praktek cas-cis-cus dengan native speaker dengan gratis sekarang kesempatan itu sangat langka. "Sekarang ini empat bulan belum tentu ada turis yang ke sini padahal dulu itu setiap bulan ada," ujarnya.

Meski mengaku butuh adanya native speaker untuk memotivasi anak didiknya mempraktekan bahasa Inggris tetapi Kalend gigih tak mau memakai jasa native speaker. "Kalau pakai native speaker itu butuh biaya besar," ujarnya. (*)
Sumber:http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=28106
Selengkapnya...